Juande Ramos memberi bukti Spurs Jadi Juara?
Juande Ramos memberi bukti bahwa ia pantas mendapat bayaran selangit—konon Ramos digaji enam (6) juta euro (sekitar Rp 81 miliar) per tahunnya—dari Tottenham Hotspur. Keberhasilan Ramos mengantarkan Ledley King dkk meraih gelar Carling Cup 2007-08—prestasi kali pertama bagi Spurs sejak 1999—juga membuktikan Ramos memenuhi janjinya ketika kali pertama datang ke White Hart Lane.
Kesuksesan Spurs mengatasi perlawanan pasukan Avram Grant di Wembley, Minggu kemarin, tidak terlepas dari kepintaran Ramos dalam merekayasa ulang formasi tim ketika Spurs tertinggal 0-1 (hasil gol Didier Drogba) sampai 45 menit paro pertama.
Sejatinya, Sejumlah peluang tercipta lewat sundulan Pascal Chimbonda, tendangan Robbie Keane, upaya Steed Malbranque, dan heading Dimitar Berbatov dan Jonathan Woodgate. Sayang, seiring dengan hilangnya peluang itu, giliran Peluang Chelsea yang berada di atas angin.
Berbatov kehilangan dukungan pemain-pemain Spurs. Chelsea mampu mengancam lewat serangan balik. Pergerakan Nicolas Anelka praktis meredam Alan Hutton. Elastisnya manuver Drogba membuat gawang Paul Robinson dalam bahaya. Alhasil, Chelsea unggul 1-0 sampai jeda tiba.
Waktu istirahat menjadi titik balik gerakan Spurs di lapangan. Di kamar ganti pemain, Ramos meminta Keane untuk tetap berada di medan terdepan. Jermaine Jenas diinstruksikan untuk mengganggu Mikel. Hutton didorong untuk lebih aktif membantu penyerangan lewat sayap kanan.
Lima belas menit setelah kick-off babak kedua, Ramos mengeluarkan satu persatu kartu truf-nya.Mantan pelatih Sevilla berusia 53 tahun itu menarik keluar Chimbonda dan menggantikannya dengan Tom Huddlestone. 15 menit berselang, Ramos memasukkan Teemu Tainio menggantikan winger Malbranque.
Formasi berubah. Lennon digeser ke sektor sayap kiri dengan tujuan menguras tenaga Juliano Belletti. Huddlestone bermain mengambang di bek kanan mendukung pergerakan Hutton sebagai pemain sayap. Bek kiri ditempati Tainio. Hasilnya, Drogba tak mampu melakukan akselerasi yang berarti di daerah pertahanan Spurs.
Terlepas dari perdebatan keputusan asisten wasit yang menganggap Wayne Bridge hand-ball di kotak 16 meter, eksekusi penalti yang mulus dilakukan Berbatov menjadi titik balik kebangkitan Spurs. Ketika waktu normal akan berakhir dimana perpanjangan waktu terpaksa bakal dilakukan, sebagian pengamat yakin Spurs di atas angin. Alasannya? Sederhana. Kondisi fisik King dkk meningkat pesat sejak ditangani Ramos.
Ketika Spurs telah unggul 2-1 lewat sundulan Woodgate, Grant mencoba meningkatkan daya gedor timnya dengan memasukkan Joe Cole untuk mendampingi Drogba, Anelka, dan Salomon Kalou. Ramos menjawabnya dengan menarik keluar Keane dan memasukkan seorang bek: Younes Kaboul. Terbukti, racikan Ramos lebih manjur.
http://www.zonabola.com/
Minggu, 24 Februari 2008
Langganan:
Komentar (Atom)
